HITAM DAN PUTIH
Di suatu sekolah di daerah yang sejuk akibat udara gunung yang dingin, ada satu orang yang bermasalah dan para
guru telah menjadi kewalahan menghadapi satu anak ini, nama anak ini Bulan Hitam, nama panggilannya
yang awalnya Bulan, sekarang menjadi Hitam. Hitam telah berbuat seperti ini sejak ia sudah menjadi murid baru di sekolah tersebut.
Akibat ulah Hitam,
pagi yang dingin menjadi hangat akibat ulahnya, itulah yang dipikirkan oleh murid-murid
SMA tersebut.
Setiap saat sebelum pelajaran dimulai, Hitam selalu membuat perkara,
yaitu: menggaggu adik kelas ataupun menganggu guru serta teman-teman sekelasnya.
Hitam sudah menjadi cewek yang tercatat buruk perilakunya. Melewati dinginnya pagi, hari ini tidak seperti biasa, hari ini Hitam tidaklah melakukan hal
yang buruk terhadap siapapun. Semua teman-temannya maupun
orang-orang yang selalu diganggunya,
ia tidak melakukan apapun. Hanya sekadar lewat seperti angin, diam ---- sunyi, tidak ada satu ulahpun yang dibuatnya. Ia bagaikan angin yang selalu menyejukkan setiap
orang, karena setiap kali ia lewat, tidak ada seorangpun yang tidak berkeringat dingin,
keringat dingin itu menambahkan kesan dingin terhadap suhu dingin
yang telah tersedia.
Kirito --- pemuda Jepang yang pindah ke Indonesia beberapa minggu yang lalu, tetapi sudah lancer Berbahasa Indonesia --- yang selalu digemari oleh cewek-cewek di sekolahnya, memilih untuk memendam perasaannya kepada Hitam. Kirito selalu mengetahui apa yang salah dengan Hitam, karena Hitam selalu mengganggunya,
hari inipun Kiritolah
yang pertama kali menyadari keadaan Hitam yang aneh hari ini.
“Apa yang terjadi denganHitam?”, Kirito berbisik dalam Bahasa Jepang kepada sahabatnya,
Rin --- yang juga berkebangsaan Jepang --- ketika Kirito telah sampai di meja Rin.
“Aku juga benar-benar tidak tahu, apa yang terjadi kepada Hitam saat ini. Tapi untunglah,
dia tidak melakukan apapun saat ini.” Rin berkata seperti
orang yang benar-benar membenci Hitam, dan Rin melupakan apa
yang seharusnya tidak dikatakan oleh Rin di depan Kirito.
Tanpa Rin sadari,
Rin
telah menancapkan “pedangnya”
yang haus darah itu tepat ke arah hati Kirito dan tanpa Rin sadari tatapan Kirito berubah menjadi sangat tajam,
Kirito juga telah meninggalkan Rin secara diam-diam sehingga kembarannya itu tidak menyadarinya.
Kirito mengikuti setiap langkah Hitam, kecuali jika itu ke
toilet, takut sesuatu akan terjadi pada Hitam.
Kirito dan Hitam,
mereka sama-sama menjadi seorang kenshi
(orang yang memperdalam ilmu kempo) beserta beberapa
orang yang menjadi sahabat mereka berdua. Dua hal
yang tak pernah teman-teman Hitam, termasuk Kirito,
ketahui, yaitu: dimana rumah Hitam dan latar belakang Hitam (Hitam pernah bilang pada semua temannya bahwa ia tidak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya, tetapi semua temannya tidak pernah percaya, sehingga mereka semua mencapai suatu kesepakatan yaitu,
apa yang dibicarakan oleh Hitam adalah kebohongan).
Dua minggu setelah kejadian ini, ada seorang murid baru
yang diterima di sekolah ini,
dan murid ini membuat tercengang semua murid termasuk Hitam dan Kirito. Seorang pemuda
yang bernama Hwaiteu Dal yang artinya Bulan Putih. Pemuda ini berasal dari keluarga bangsawan
yang mempunyai darah keturunan orang Korea asli. Tidak ada seorangpun yang tidak tercengang, saat Dal mengatakan bahwa arti nama dirinya adalah Bulan Putih.
Hari ini,
hari Jumat, saat di mana aku dan Kirito latihan kempo dengan senpai-senpai dan teman-teman yang lainnya. Saat kami berada di tengah latihan, senpai
yang khusus mengajari kami berdua,
dipanggil oleh
kepala sekolah,
setelah beberapa menit berbicara dengan kepala sekolah,
“Hitam dan Kirito!”,
senpai memanggil kami berdua dengan nada yang ceria, seperti bukan gayanya saja yang selalu berbicara dengan
nada dingin. “Hari ini sampai seterusnya,
akan ada murid baru yang akan berlatih bersama dengan
kalian, tapi dia berada satu tingkat di atas kalian, yaitu DAN 1, kalian
pasti akan senang jika kalian tahu siapa yang akan berlatih bersama kalian”
Aku dan Kirito saling berpandangan tidak mengerti, “Siapa?”, Tanya kami serentak.
Seketika jawaban yang diberikan oleh senpai
kami sama sekali tidak kami duga, Hwaiteu Dal!! Aku yang
selalu mempunyai dendam pada anak ini sebelum ia pindah kesekolahku sampai sekarang, mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari pada aku,
KYU 1. Sebelum ini, aku yang selalu di atas
dia.
Kata-kata itu menggigit tulang dan darahku sampai aku membeku di tempat, sebelum kusadari, aku telah membentak senpaiku dan mengatakan aku tidak akan latihan kempo lagi.
Kata-kata ini, dapat didengarkan oleh seluruh
orang di dojo dapat mendengar suaraku. Secara otomatis,
gohei-gohei langsung mengelilingi kami bertiga dan menghujaniku dengan beribu-ribu pertanyaan, gohei-gohei dan senpai-senpai tahu kalau aku adalah
orang yang memiliki tingkat pemahaman gerakan
yang tinggi dan mempunyai bakat
yang tidak dimiliki oleh orang lain di SMA ini. Aku tidak
bias secara terus terang mengatakan bahwa kami, aku dan Hwaiteu Dal, mempunyai dendam sejak
kami kecil dulu.
Tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan dan pandangan sekelilingku, aku langsung keluar dari dojo. Sebelum aku sempat pergi dari
dojo, aku bertemu muka dengan Hwaiteu. Aku langsung menghampirinya dan mengatakan, “Setelah ini,
datanglah ke rumahku, kali ini... kau tidak akan lolos”, aku yakin kalau
kata-kataku membuatnya menjadi beku di tempat. Apa yang ingin kubicarakan?
Tentu saja ini berhubungan dengan dendamku.
Saat aku
telah sampai di rumah dan sedang membaca buku, dia datang ke rumahku. Dengan
caranya yang biasa... memanjat tembok dan langsung masuk lewat pintu kaca geser
yang ada di samping rumahku. Ia pun masuk ke kamarku seolah-olah dia adalah
kakakku.
“Kenapa
kau masuk tanpa izin? Kau bukanlah seseorang yang layak untuk melakukan hal
itu!”
“Aku
adalah kakakmu. Sampai kapan kau akan begini terus, Hayata?”
“Kau
bukanlah kakakku, Heuk Dal-ssi! Untuk apa kau menyamarkan namamu dan mendatangi
sekolahku?! Kau tahu, aku pindah ke sini karena aku ingin menghindar dari
kalian semua!”
Hening...
Ia hanya menatapku seolah aku adalah orang yang menyangkal kalau aku adalah
adiknya. Aku tidaklah menyangkalnya, itu memang kenyataan, dia bukanlah
kakakku, dia hanyalah anak dari selingkuhan ayah yang diserahkan pada
keluargaku saat aku berulang tahun untuk yang pertama kalinya. Sejak saat itu,
ia merebut semuanya dariku; kebanggaan orang tua, kasih sayang, menjadi ahli
waris dari perusahaan ayah. Semua itu dimilikinya setelah ia datang ke
keluargaku.
“Kau
tahu, aku tidak berniat untuk melakukannya... sungguh. Aku tidak dapat memilih
ayahku, kau seharusnya mengerti keadaanku. Aku... aku menyesal dengan apa yang
terjadi, kalau aku bisa... kalau aku tahu, akhirnya akan menjadi seperti ini.
Aku akan menyangkal ayah. Aku tidak ingin membuatmu menjauh dari kami semua”
“Kalau
begitu, seharusnya kau sadar dari awal. Apa yang telah kau lakukan telah
membuatku menjadi sendirian di dunia yang kejam ini.” Tanpa kusadari, air mata
mengalir dari mataku.
Heuk Dal
menceritakan semua yang terjadi, setelah itu... Ia berlutut di sampingku dan
meminta maaf padaku. Setelah itu, ia menghapus air mata yang sedari tadi
mengalir di pipiku. Aku hanya khawatir, sesuatu yang seharusnya tidak berjalan
seperti ini akan terjadi dengan sendirinya. Sehingga, aku langsung refleks dan
menjauhkan tangannya dari pipiku dengan kasar.
“Aku
ingin kau membuka semuanya, pada teman-teman mengenai identitasmu yang
sebenarnya dan siapa kita sebenarnya. Aku mau kau mengakuiku sebagai ahli waris
yang sebenarnya dan juga seseorang yang membuatmu menjadi kuat selama ini dan
siapa yang telah mengajarkan kempo padamu.”
“Aku
mengerti, terima kasih karena telah mendengarkan semua kata-kataku. Sebelum
ini, aku selalu tidak pernah lega karena mengakui semua hal ini. Terima kasih
banyak.” Begitulah katanya, ia mengucapkan semua itu sambil membungkuk padaku.
Kebiasaan orang Korea... Kebiasaan kami.
“Kakak,”
Aku mengatakannya dengan ragu-ragu, “Terima kasih sudah datang ke dalam
kehidupanku dan juga sudah mau mengakui semuanya dengan tulus.”
Aku
melihat kakakku tersenyum dengan mata yang berlinang. “Jangan menangis di sini,
seorang kenshi dan juga seorang yang berasal dari keluarga Lee tidak pernah
menangis di depan orang lain! Tegarkan dirimu!” Yah, akhirnya keluar juga
kebiasaan lamaku. Kalau begini terus, bisa-bisa aku yang menjadi kakaknya.
“Na...
Hayata saranghae”, aku yang mendengar itu, menjadi kaget. Hanya laki-laki yang
mengungkapkan perasaannya seperti itu pada seorang wanita. Sebelum aku sempat
mengucapkan sepatah katapun, kakakku sudah pergi.
Hari
berikutnya, aku datang ke sekolah dengan pikiran yang tidak karuan di kepalaku.
Saat aku datang ke kelasku, aku melihat banyak tatapan menuju ke arahku.
“A...”
Sebelum aku sempat mengucapkan apa yang ingin kukatakan, banyak yang
mengerumuniku dengan tanda tanya, terutama murid-murid cewek yang menjadi
penggemar-penggemar kakakku.
“Kau...
Apa kau benar-benar adik Lee Heuk Dal? Ia sudah menceritakan semuanya kepada
kami semua, katanya kau adalah pewaris yang sah dan yang sebenarnya. Apakah itu
benar? Jangan-jangan kau yang merebut apa yang menjadi milik Heuk Dal?” Tanya
Maya, mewakili semua teman-teman ceweknya.
“Kau
jangan asal bicara, May. Hitam tidak mungkin berlaku begitu, sebenarnya siapa
yang selama ini menganggap apa yang dia katakan itu tidak benar bahwa ia tidak
pernah mendapat kasih sayang? Kau’kan?” Kata Jimmy, Jimmy adalah salah satu
sahabatku yang lain.
Aku tidak bisa berkata apa-pun, tapi setelah itu, kakak
muncul tiba-tiba entah dari mana, seperti biasa.
“Apa
yang kukatakan kurang jelas? Aku berkata bahwa aku yang merebut apa yang
menjadi milik Hayata.”
“Kakak!’
“Kita
pergi dulu dari sini, aku ingin bicara denganmu.”
Kakak
menarik lenganku sehingga aku terseret bersama dengan kepergiannya untuk
mencapai tempat tujuan. Sementara aku melihat tatapan dingin dari teman-teman
cewekku dan juga tatapan tanda terima kasih kepada kakak yang di pancarkan oleh
teman-teman laki-lakiku. Ternyata tujuan kakak adalah ruang peralatan kempo.
Sesampainya di sana, kakak memeriksa keadaan, ia sepertinya tidak ingin ada
orang yang mengetahui mengenai pertemuan kami.
“Kakak!
Ada apa sebenarnya? Kenapa kakak menarikku?”
“Kau...
benar-benar tidak tahu? Kau melupakan ulang tahun ayah dan juga ulang tahun
perusahaan besok?”
“Ah!
Maaf, aku benar-benar melupakannya. Karena... Tunggu, kakak mengingatkanku akan
sesuatu yang sangat ingin kutanyakan pada kakak. Apa maksud perkataan kakak
kemarin sebelum kakak meninggalkan rumahku?”
Aku
tidak mendapat jawaban yang segera, aku menatap wajah dan mata kakak, tampaknya
kakak ingin menghindari tatapanku, ia langsung berpaling dan menutupi mulutnya
dengan punggung tangannya. Aku tidak bisa percaya ini, wajah kakak memerah. Apa
yang sebenarnya terjadi?
“Aku...
Aku mengatakannya karena aku benar-benar menganggapmu sebagai senpaiku dalam
kempo dan aku... tidak pernah menganggapmu sebagai adik.”
“Tidak,
tidak boleh, kak! Kau tahu, semenjak kau menceritakan semuanya kepadaku, aku
benar-benar menganggapmu sebagai kakak.”
“Aku
tahu ini tidak mungkin, jadi aku berniat melupakannya sebelum kau tanya padaku
seperti tadi... Aku tidak punya waktu yang cukup untuk melupakanmu.” Apa yang
kakakku katakan membuatku shock berat, tapi dengan cepat kakak menambahkan,
“Tapi jangan khawatir aku akan melupakanmu sebelum kau tanya lagi padaku.”
“Ah,
benar juga... aku lupa tujuanku menarikmu tadi. Aku ingin mengundangmu ke pesta
ulang tahun ayah sekaligus ulang tahun perusahaan. Kau mau?”
“Tapi
aku sudah tidak diterima lagi di keluarga sewaktu aku telah meninggalkan
rumah.”
“Jangan
khawatir, aku ada di sini untuk mendukungmu. Oh iya, kau boleh bawa
teman-temanmu. Sudah dulu ya”
Setelah
kakak menyerahkan beberapa buku undangan, kakak langsung pergi meninggalkanku,
aku menebak ia pasti akan pergi ke kafetaria, karena aku sudah mendengar perut
kakak berbunyi dari tadi. Aku menjadi bingung siapa yang harus kuundang?
Akhirnya, kuputuskan untuk mengundang Kirito, Rin, Jimmy, dan Maya. Aku
mengundang Maya agar dia tidak terlalu marah padaku.
Hari
dimana dilaksanakannya pesta tersebut telah tiba. Karena kami adalah keluarga
yang dari dulu menjunjung estetika nenek moyang kami, aku mengeluarkan hanbok (pakaian tradisional Korea) dari
lemari simpananku. Tapi, setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku berjaga-jaga
membawa pakaian formal Inggris. Aku beserta teman-temanku yang kuundang
dijemput oleh kakakku.
Sesampainya
di rumah tradisional Korea yang di bangun oleh keluargaku di Indonesia, aku
mendapat perhatian dari banyak konsumen-konsumen serta pekerja-pekerja di
perusahaan yang masih mengakuiku sebagai pewaris yang sah.
Ketika
aku sampai di ruang tamu bersama taman-temanku dan juga kakak, aku memberikan
salam pada ibu dan ayah.
“Kau!
Beraninya kau datang ke sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi!”
Itulah
yang kudengar pertama kali dari ayahku. Walaupun kami sudah lama tidak bertemu,
tetapi hubungan ayah dan aku tidak membaik. Aku sudah memutuskan, bahwa aku
akan menjunjung tinggi kebenaran, aku juga tidak takut lagi pada ayahku.
“Kalau
begitu, bagaimana kalau aku memberitahukan yang sebenarnya kepada semua orang
yang hadir di sini. Mengenai apa yang telah ayah lakukan bertahun-tahun yang
lalu? Perlu kuulangi apa yang selama ini membuatku menjadi kuat dan berlatih di
sana-sini?”
“Hayata!
Cukup, tidak perlu kau emosi seperti ini”
Apa yang
kuharapkan? Tentu saja, ibuku akan membela ayah, seperti dulu saat Heuk Dal
datang kepada keluargaku. Saat itu, bagiku tidak ada masalah jika yang memimpin
perusahaan adalah wanita, tetapi, tentu saja ibu membela ayah yang mengatakan
bahwa Heuk Dal yang lebih cocok untuk menerima jabatan ini. Reaksi yang tak
pernah bisa kuduga muncul dari kakakku.
“Ibu!
Hentikan, aku yang mengajaknya kemari, karena yang selama ini menjagaku adalah
Hayata. Ibu pikir aku memiliki kemampuan secara alami? Tidak! Hayata-lah yang
mengajariku tentang berbagai hal, pelajaran, teknik-teknik bela diri, cara
mengelola perusahaan. Semuanya telah ia ajarkan padaku, tapi apa yang ibu dan
ayah lakukan selama ia melakukan semua hal itu? Karena ulah ayah dan ibu,
Hayata menjadi anak yang bermasalah di sekolahnya, juga ia menjadi punya dendam
padaku”
Aku
tidak mengharapkan reaksi apa yang diberikan ayah dan ibuku, tetapi aku amat
berterima kasih karena aku mempunyai kakak yang sungguh dapat diandalkan di
saat begini. Sebagai tanda terima kasih aku menggandeng tangannya. Kakak
menoleh dan tersenyum padaku.
Sungguh
tidak dapat dipercaya, reaksi yang ditimbulkan oleh orangtua kandungku berbeda
dari yang kubayangkan. Mereka menerimaku kembali, sebagai pewaris sah dari ayah
dan juga aku diminta ayahku untuk terus berada di sisinya saat dibutuhkan di
kantor. Mataku berlinang dengan air mata, udara yang tadinya menjadi panas
bagaikan kebakaran yang terjadi di dekatku, sekarang menjadi biasa-biasa saja.
Dari hal
ini, aku baru mau menyadari bahwa kakak mempunyai sesuatu yang dapat dengan
mudah menarik hati orang lain. Buktinya... aku dapat dengan cepat melupakan
dendamku pada kakak setelah kakak menceritakan semua detil dari peristiwa yang
terjadi serta kakak dapat mengubah jalan pikiran dan hati ayah dan ibu hanya
dengan kata-kata yang di ucapkan tanpa ada cela.
Pesta...
usai sudah, karena merayakan kepulanganku ke keluarga ini dan juga sebagai
pewaris perusahaan yang sah, semua tamu yang diundang diperkenankan untuk
menginap malam ini. Semua telah kembali normal, teman-temanku yang kuajak
percaya pada kata-kataku, itu-pun akibat perkataan kakak tadi saat pesta.
Akibat pesta yang melelahkan tadi aku duduk di koridor
samping rumahku, dari sana pemandangan yang ada jauh lebih cantik daripada
pemandangan matahari terbenam yang kulihat
di balkon rumahku. Aku memandang matahari yang terbenam
di sana, tapi tiba-tiba kakak lagi-lagi muncul entah dari mana. Tapi kali ini
tidak mengagetkanku, karena kakak sengaja tidak menyembunyikan hawa
keberadaannya, sehingga aku dapat merasakannya.
“Sedang
apa kau di sini? Merasa tidak enak, karena kau menjadi pewaris perusahaan
menggantikan aku?”
“Tidak!
Aku tidak akan menyerahkan posisiku lagi pada kakak.”
Kami
berdua berpandangan sejenak, lalu aku tersenyum, dan tawa kami-pun pecah
memenuhi dojo taekwondo dan kempo yang
ada di belakang kami.
“Kau
tahu, Hayata... kau mempunyai senyum yang menular. Aku dapat tersenyum karena
aku melihat kau tersenyum.”
“Heuk
Dal, bisa kita bicara sebentar?” Pertanyaan itu, mengagetkan kami berdua, suara
jernih dan tenang, tak lain lagi suara itu milik Maya.
Kami
berpandangan sejenak. Lalu, Maya mengangguk kepadaku, secara otomatis aku
menganggukkan kepala juga.
“Baiklah,
kutinggal dulu ya, Hayata”
Setelah
itu, kakak mencium keningku dan pergi meninggalkan aku yang sendiri bersama
sinar matahari yang membalutku sore itu. Aku yang terlalu terfokus memikirkan
apa yang akan Maya bicarakan dengan kakak, tidak menyadari bahwa Kirito berdiri
di sebelahku. Suaranya yang hangat dan ringan, mengagetkanku, ia tahu aku dapat
berbicara dengan Bahasa Jepang, jadi ia mengajakku bicara dengan Bahasa Jepang.
“Selamat
sore, Hime-sama”
Aku tahu
isyarat itu, ia tidak ingin apa yang kita bicarakan dimengerti oleh orang lain.
Seperti kebiasaannya itu, aku selalu ia panggil tuan puteri.
“Apa?”
“Kau
terlihat cantik dalam balutan hanbok berwarna putih dan biru muda itu, apalagi
sekarang matahari menambahkan efek kilatan berwarna keemasan di bajumu itu.”
“Tak
usah terbelit-belit! Katakan apa maumu” Kataku dengan nada yang agak sedikit
jengkel.
“Maya
ingin mengaku mengenai perasaannya pada kakakmu. Katanya, ia akan mengaku
ketika semua masalah yang membebanimu dan kakakmu telah selesai”
“Hah!
Dari mana kau tahu semua itu?”
“Aku
tahu semua tentang dirimu, Hayata”
Namaku
seperti orang Jepang, jadi mudah bagi orang Jepang untuk mengucapkannya dengan
benar. Entah mengapa, aku menyukai cara Kirito memanggil namaku. Tapi, untuk
masalah Kirito mengetahui semua tentangku itu aku agak ragu. Aku menatap Kirito
dengan sorot mata kebingungan, karena itu Kirito menjelaskan semuanya kepadaku.
Ia mengaku kalau ia menyukaiku. Secara otomatis, aku tertegun karena alasan
yang diberikan Kirito agak tidak masuk akal, ia menyukaiku ketika ia pertama
bertemu denganku. Saat itu, ia sedang mencari masalah denganku, jadi mulai saat
itu aku menjadi sering mengganggu dia.
“Tunggu
tunggu. Kau serius dengan ucapanmu itu?”
“Aku
selalu serius dengan ucapanku mengenai perasaanku sendiri. Jadi, maukah kau
menjadi pacarku?”
“Maaf, aku...
tidak bisa menerimamu saat ini.”
Aku
memandang jauh ke dalam matanya, perasaannya tulus dan aku dapat melihat
keseriusan yang diutarakannya.
“Kalau
begitu, izinkan aku untuk tetap menunggumu, untuk tetap berada di sisimu.”
Aku
mengangguk pelan padanya. Aku melihat dengan jelas dengan ekor mataku, bahwa
kakakku dan Maya bergandengan, dan itu artinya aku akan sendiri, sementara
kakak akan lebih sering bersama dengan Maya daripada bersamaku untuk berlatih
kempo.
Malam
akhirnya tiba, karena Maya tidak terbiasa tidur dengan futon (tempat tidur yang
berasal dari Jepang yang langsung di letakkan di lantai tanpa ada penyangga
kayu), aku dan Rin tidur di futon. Malam ini, jujur aku tidak bisa tidur sama
sekali, karena pikiranku melayang ke peristiwa-peristiwa tadi sore.
“Hayata,
kau masih terbangun?”, Rin ternyata masih terjaga sama denganku.
“hmm”
“Kau
menerima pengakuan kakakku?”
“Belum.
Aku masih belum bisa menerimanya sekarang. Aku masih harus fokus kepada ujian
kelulusan dan juga urusan kantor.”
“Kumohon,
jangan terima pengakuan kakakku. Aku tidak ingin kakakku terluka karena kau
berada di sampingnya.”
“Tidakkah
kau pikir bahwa kalau aku yang kau mohon sampai seperti itu, tidak akan
menderita karena aku melihat orang lain menderita, apalagi orang itu menderita
karena aku sendiri. Harus kuakui pada kau, adik dari Kirito, bahwa aku, mulai
menyukainya.”
“Kumohon...
aku akan melakukan apapun, tapi aku tidak akan menyerahkan kakakku ke tangan
gadis sepertimu.”
Tanpa
bicara apapun, aku langsung meninggalkan Rin, aku mendengar isakan pelan yang
berasal dari Rin, masih dalam baju tidur tradisional Korea, aku berjalan keluar
tanpa memikirkannya lagi, tetapi aku tidak bisa mengenyahkan perkataan dari Rin
tadi. Aku-pun mengelilingi jalan yang terbentuk di sekitar kolam ikan yang
berisi ikan nila. Pantulan yang ada di permukaan air yang tenang terdapat
bayangan bulan, bulan putih. Bulan putih, yang dikelilingi oleh bulan hitam dan
biru.
Langit
begitu cerah, sehingga 3 bulan tersebut nampak bersamaan bahkan di langit.
Perlahan, lagi-lagi air mataku mengalir keluar, memandang bulan yang merupakan
namaku, inilah saat aku lahir. Tidak ada yang menyadari dan ingat kapan aku
ulang tahun. Bahkan, ayah dan ibuku tidak mengingatnya lagi. Sepanjang malam
itu, aku hanya ditemani oleh cahaya rembulan dan juga seekor anjing yang kali
ini tersesat dan masuk ke dalam rumahku.
“Dari
mana kau berasal? Bisakah kau merasakannya? Kesendirian di hari yang sangat
spesial bagimu?”
Seakan
mengerti mengenai apa yang kukatakan, ia mendengking pelan, sangat pelan.
Sehingga aku tidak tega untuk kembali ke kamarku. Untungnya, di tengah taman
itu, ada sebuah ruang terbuka, semacam gazeboo, maka aku mengajaknya ke sana,
lalu, aku memberinya makanan dan minuman. Semalaman, aku ditemani oleh anjing
ini. Anjing ini, bulunya masih sangat bagus, tidak terkesan seperti anjing liar
dan sepertinya belum lama ia berkeliaran di udara terbuka ini, anjing ini
tergolong anjing yang berukuran medium.
Saat
pagi, sang mentari telah menunjukkan wajahnya, aku dibangunkan oleh jilatan
anjing yang kuselamatkan semalam. Aku terbangun, dan menyadari bahwa aku tidak
berada di dalam kamarku. Aku langsung pergi ke kamar mandi dan mengganti bajuku
dengan baju sekolah. Aku tidak sempat sarapan sehingga aku langsung menuju ke
sekolah. Karena anjing itu mengikutiku terus, maka aku memberinya nama Loyalty
dan aku membawanya ke rumah pribadiku. Aku menyuruhnya diam di rumahku, setelah
aku memberinya makan untuk sarapan.
Aku
langsung pergi ke sekolah. Di sekolah, aku langsung di kerumuni
oleh gohei-goheiku yang memintaku untuk
kembali lagi ke dunia kempo.
“Fuh…” Aku menghela dengan pelan.
“Jangan khawatir… Aku akan kembali ke dunia kempo, kini, tidak ada alasan lagi
bagiku untuk meninggalkan dunia kempo, lagi pula, tidak ada yang dapat
menghentikanku dari dunia kempo.”
Seketika kata-kataku tadi telah
membuat riuh kelas ini. Kali ini aku baru sadar bahwa tidak semua orang akan
menjauhiku karena perilakuku yang buruk kepada orang lain. Selama ini alasan
bagiku untuk melakukan semua itu adalah selain karena aku ada masalah keluarga,
aku juga butuh ketenangan dengan cara menjauhkan diriku dari publik.
Ketika itu, aku berpas-pasan dengan
Kirito, aku melihatnya dengan muka yang bersemu merah. Besok adalah hari
kelulusan kami semua, sehingga aku memutuskan untuk menjawab pernyataannya di
hari kelulusan kami. Dan satu masalah lagi, Rin masih tidak bisa menerimaku di
keluarganya. Tapi akan kucoba sehingga ia akan dapat menerimaku di keluarganya.
Hari kelulusan telah tiba, aku memanggil
Kirito untuk pergi ke kelas yang kosong. Entah bagaimana aku mengumpulkan
keberanianku, aku menerimanya sebagai pacarku. Kami berdua pergi ke kampus yang
sama hanya saja mata kuliah kami berbeda.
Lama-kelamaan,
Rin dapat menerimaku di dalam keluarganya. Aku, Rin, Kirito, kakakku, dan Maya,
tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan setiap kali kami bertemu. Kami-pun,
dengan 3 orang yang mendalami kempo dan 2 orang yang mendalami taekwondo,
saling menjaga satu sama lain. Kami-pun ketika berjalan di kampus berlima, kami
melihat banyak orang yang memperhatikan kami, karena selain empat orang dari
kami berpacaran, kami berlima merupakan sahabat yang sulit untuk dipisahkan.
Mereka menatap kami dengan pandangan
keirian. Tapi tak apa, selama kami berlima bersahabat selalu, kami tidak akan
memusingkan pandangan-pandangan tersebut, karena kami memang terlalu asyik
berbicara mengenai sesuatu, sehingga kami jarang memperhatikan orang lain. Yah,
inilah akhir bahagia dari kami semua.