Minggu, 25 November 2012

Hitam dan Putih


HITAM DAN PUTIH
            Di suatu sekolah di daerah yang sejuk akibat udara gunung yang dingin, ada satu orang yang bermasalah dan para guru telah menjadi kewalahan menghadapi satu anak ini, nama anak ini Bulan Hitam, nama panggilannya yang awalnya Bulan, sekarang menjadi Hitam. Hitam telah berbuat seperti ini sejak ia sudah menjadi murid baru di sekolah tersebut. Akibat ulah Hitam, pagi yang dingin menjadi hangat akibat ulahnya, itulah yang dipikirkan oleh murid-murid SMA tersebut.
            Setiap saat sebelum pelajaran dimulai, Hitam selalu membuat perkara, yaitu: menggaggu adik kelas ataupun menganggu guru serta teman-teman sekelasnya. Hitam sudah menjadi cewek yang tercatat buruk perilakunya. Melewati dinginnya pagi, hari ini tidak seperti biasa, hari ini Hitam tidaklah melakukan hal yang buruk terhadap siapapun. Semua teman-temannya maupun orang-orang yang selalu diganggunya, ia tidak melakukan apapun. Hanya sekadar lewat seperti angin, diam ---- sunyi, tidak ada satu ulahpun yang dibuatnya. Ia bagaikan angin yang selalu menyejukkan setiap orang, karena setiap kali ia lewat, tidak ada seorangpun yang tidak berkeringat dingin, keringat dingin itu menambahkan kesan dingin terhadap suhu dingin yang telah tersedia.
            Kirito --- pemuda Jepang yang pindah ke Indonesia beberapa minggu yang lalu, tetapi sudah lancer Berbahasa Indonesia --- yang selalu digemari oleh cewek-cewek di sekolahnya, memilih untuk memendam perasaannya kepada Hitam. Kirito selalu mengetahui apa yang salah dengan Hitam, karena Hitam selalu mengganggunya, hari inipun Kiritolah yang pertama kali menyadari keadaan Hitam yang aneh hari ini.
            “Apa yang terjadi denganHitam?”, Kirito berbisik dalam Bahasa Jepang kepada sahabatnya, Rin --- yang juga berkebangsaan Jepang --- ketika Kirito telah sampai di meja Rin.
            “Aku juga benar-benar tidak tahu, apa yang terjadi kepada Hitam saat ini. Tapi untunglah, dia tidak melakukan apapun saat ini.” Rin berkata seperti orang yang benar-benar membenci Hitam, dan Rin melupakan apa yang seharusnya tidak dikatakan oleh Rin di depan Kirito. Tanpa Rin sadari, Rin  telah menancapkan “pedangnya” yang haus darah itu tepat ke arah hati Kirito dan tanpa Rin sadari tatapan Kirito berubah menjadi sangat tajam, Kirito juga telah meninggalkan Rin secara diam-diam sehingga kembarannya itu tidak menyadarinya.
            Kirito mengikuti setiap langkah Hitam, kecuali jika itu ke toilet, takut sesuatu akan terjadi pada Hitam. Kirito dan Hitam, mereka sama-sama menjadi seorang kenshi (orang yang memperdalam ilmu kempo) beserta beberapa orang yang menjadi sahabat mereka berdua. Dua hal yang tak pernah teman-teman Hitam, termasuk Kirito, ketahui, yaitu: dimana rumah Hitam dan latar belakang Hitam (Hitam pernah bilang pada semua temannya bahwa ia tidak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya, tetapi semua temannya tidak pernah percaya, sehingga mereka semua mencapai suatu kesepakatan yaitu, apa yang dibicarakan oleh Hitam adalah kebohongan).
            Dua minggu setelah kejadian ini, ada seorang murid baru yang diterima di sekolah ini, dan murid ini membuat tercengang semua murid termasuk Hitam dan Kirito. Seorang pemuda yang bernama Hwaiteu Dal yang artinya Bulan Putih. Pemuda ini berasal dari keluarga bangsawan yang mempunyai darah keturunan orang Korea asli. Tidak ada seorangpun yang tidak tercengang, saat Dal mengatakan bahwa arti nama dirinya adalah Bulan Putih.
            Hari ini, hari Jumat, saat di mana aku dan Kirito latihan kempo dengan senpai-senpai dan teman-teman yang lainnya. Saat kami berada di tengah latihan, senpai yang khusus mengajari kami berdua, dipanggil oleh
kepala sekolah, setelah beberapa menit berbicara dengan kepala sekolah, “Hitam dan Kirito!”, senpai memanggil kami berdua dengan nada yang ceria, seperti bukan gayanya saja yang selalu berbicara dengan nada dingin. “Hari ini sampai seterusnya, akan ada murid baru yang akan berlatih bersama dengan kalian, tapi dia berada satu tingkat di atas kalian, yaitu DAN 1, kalian pasti akan senang jika kalian tahu siapa yang akan berlatih bersama kalian”
            Aku dan Kirito saling berpandangan tidak mengerti, “Siapa?”, Tanya kami serentak. Seketika jawaban yang diberikan oleh senpai kami sama sekali tidak kami duga, Hwaiteu Dal!! Aku yang selalu mempunyai dendam pada anak ini sebelum ia pindah kesekolahku sampai sekarang, mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari pada aku, KYU 1. Sebelum ini, aku yang selalu di atas dia.
            Kata-kata itu menggigit tulang dan darahku sampai aku membeku di tempat, sebelum kusadari, aku telah membentak senpaiku dan mengatakan aku tidak akan latihan kempo lagi. Kata-kata ini, dapat didengarkan oleh seluruh orang di dojo dapat mendengar suaraku. Secara otomatis, gohei-gohei langsung mengelilingi kami bertiga dan menghujaniku dengan beribu-ribu pertanyaan, gohei-gohei dan senpai-senpai tahu kalau aku adalah orang yang memiliki tingkat pemahaman gerakan yang tinggi dan mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain di SMA ini. Aku tidak
bias secara terus terang mengatakan bahwa kami, aku dan Hwaiteu Dal, mempunyai dendam sejak kami kecil dulu.
            Tanpa mempedulikan pertanyaan-pertanyaan dan pandangan sekelilingku, aku langsung keluar dari dojo. Sebelum aku sempat pergi dari dojo, aku bertemu muka dengan Hwaiteu. Aku langsung menghampirinya dan mengatakan, “Setelah ini, datanglah ke rumahku, kali ini... kau tidak akan lolos”, aku yakin kalau kata-kataku membuatnya menjadi beku di tempat. Apa yang ingin kubicarakan? Tentu saja ini berhubungan dengan dendamku.
            Saat aku telah sampai di rumah dan sedang membaca buku, dia datang ke rumahku. Dengan caranya yang biasa... memanjat tembok dan langsung masuk lewat pintu kaca geser yang ada di samping rumahku. Ia pun masuk ke kamarku seolah-olah dia adalah kakakku.
            “Kenapa kau masuk tanpa izin? Kau bukanlah seseorang yang layak untuk melakukan hal itu!”
            “Aku adalah kakakmu. Sampai kapan kau akan begini terus, Hayata?”
            “Kau bukanlah kakakku, Heuk Dal-ssi! Untuk apa kau menyamarkan namamu dan mendatangi sekolahku?! Kau tahu, aku pindah ke sini karena aku ingin menghindar dari kalian semua!”
            Hening... Ia hanya menatapku seolah aku adalah orang yang menyangkal kalau aku adalah adiknya. Aku tidaklah menyangkalnya, itu memang kenyataan, dia bukanlah kakakku, dia hanyalah anak dari selingkuhan ayah yang diserahkan pada keluargaku saat aku berulang tahun untuk yang pertama kalinya. Sejak saat itu, ia merebut semuanya dariku; kebanggaan orang tua, kasih sayang, menjadi ahli waris dari perusahaan ayah. Semua itu dimilikinya setelah ia datang ke keluargaku.
            “Kau tahu, aku tidak berniat untuk melakukannya... sungguh. Aku tidak dapat memilih ayahku, kau seharusnya mengerti keadaanku. Aku... aku menyesal dengan apa yang terjadi, kalau aku bisa... kalau aku tahu, akhirnya akan menjadi seperti ini. Aku akan menyangkal ayah. Aku tidak ingin membuatmu menjauh dari kami semua”
            “Kalau begitu, seharusnya kau sadar dari awal. Apa yang telah kau lakukan telah membuatku menjadi sendirian di dunia yang kejam ini.” Tanpa kusadari, air mata mengalir dari mataku.
            Heuk Dal menceritakan semua yang terjadi, setelah itu... Ia berlutut di sampingku dan meminta maaf padaku. Setelah itu, ia menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipiku. Aku hanya khawatir, sesuatu yang seharusnya tidak berjalan seperti ini akan terjadi dengan sendirinya. Sehingga, aku langsung refleks dan menjauhkan tangannya dari pipiku dengan kasar.
            “Aku ingin kau membuka semuanya, pada teman-teman mengenai identitasmu yang sebenarnya dan siapa kita sebenarnya. Aku mau kau mengakuiku sebagai ahli waris yang sebenarnya dan juga seseorang yang membuatmu menjadi kuat selama ini dan siapa yang telah mengajarkan kempo padamu.”
            “Aku mengerti, terima kasih karena telah mendengarkan semua kata-kataku. Sebelum ini, aku selalu tidak pernah lega karena mengakui semua hal ini. Terima kasih banyak.” Begitulah katanya, ia mengucapkan semua itu sambil membungkuk padaku. Kebiasaan orang Korea... Kebiasaan kami.
            “Kakak,” Aku mengatakannya dengan ragu-ragu, “Terima kasih sudah datang ke dalam kehidupanku dan juga sudah mau mengakui semuanya dengan tulus.”
            Aku melihat kakakku tersenyum dengan mata yang berlinang. “Jangan menangis di sini, seorang kenshi dan juga seorang yang berasal dari keluarga Lee tidak pernah menangis di depan orang lain! Tegarkan dirimu!” Yah, akhirnya keluar juga kebiasaan lamaku. Kalau begini terus, bisa-bisa aku yang menjadi kakaknya.
            “Na... Hayata saranghae”, aku yang mendengar itu, menjadi kaget. Hanya laki-laki yang mengungkapkan perasaannya seperti itu pada seorang wanita. Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun, kakakku sudah pergi.
            Hari berikutnya, aku datang ke sekolah dengan pikiran yang tidak karuan di kepalaku. Saat aku datang ke kelasku, aku melihat banyak tatapan menuju ke arahku.
            “A...” Sebelum aku sempat mengucapkan apa yang ingin kukatakan, banyak yang mengerumuniku dengan tanda tanya, terutama murid-murid cewek yang menjadi penggemar-penggemar kakakku.
            “Kau... Apa kau benar-benar adik Lee Heuk Dal? Ia sudah menceritakan semuanya kepada kami semua, katanya kau adalah pewaris yang sah dan yang sebenarnya. Apakah itu benar? Jangan-jangan kau yang merebut apa yang menjadi milik Heuk Dal?” Tanya Maya, mewakili semua teman-teman ceweknya.
            “Kau jangan asal bicara, May. Hitam tidak mungkin berlaku begitu, sebenarnya siapa yang selama ini menganggap apa yang dia katakan itu tidak benar bahwa ia tidak pernah mendapat kasih sayang? Kau’kan?” Kata Jimmy, Jimmy adalah salah satu sahabatku yang lain.
            Aku tidak bisa berkata apa-pun, tapi setelah itu, kakak muncul tiba-tiba entah dari mana, seperti biasa.
            “Apa yang kukatakan kurang jelas? Aku berkata bahwa aku yang merebut apa yang menjadi milik Hayata.”
            “Kakak!’
            “Kita pergi dulu dari sini, aku ingin bicara denganmu.”
            Kakak menarik lenganku sehingga aku terseret bersama dengan kepergiannya untuk mencapai tempat tujuan. Sementara aku melihat tatapan dingin dari teman-teman cewekku dan juga tatapan tanda terima kasih kepada kakak yang di pancarkan oleh teman-teman laki-lakiku. Ternyata tujuan kakak adalah ruang peralatan kempo. Sesampainya di sana, kakak memeriksa keadaan, ia sepertinya tidak ingin ada orang yang mengetahui mengenai pertemuan kami.
            “Kakak! Ada apa sebenarnya? Kenapa kakak menarikku?”
            “Kau... benar-benar tidak tahu? Kau melupakan ulang tahun ayah dan juga ulang tahun perusahaan besok?”
            “Ah! Maaf, aku benar-benar melupakannya. Karena... Tunggu, kakak mengingatkanku akan sesuatu yang sangat ingin kutanyakan pada kakak. Apa maksud perkataan kakak kemarin sebelum kakak meninggalkan rumahku?”
            Aku tidak mendapat jawaban yang segera, aku menatap wajah dan mata kakak, tampaknya kakak ingin menghindari tatapanku, ia langsung berpaling dan menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Aku tidak bisa percaya ini, wajah kakak memerah. Apa yang sebenarnya terjadi?
            “Aku... Aku mengatakannya karena aku benar-benar menganggapmu sebagai senpaiku dalam kempo dan aku... tidak pernah menganggapmu sebagai adik.”
            “Tidak, tidak boleh, kak! Kau tahu, semenjak kau menceritakan semuanya kepadaku, aku benar-benar menganggapmu sebagai kakak.”
            “Aku tahu ini tidak mungkin, jadi aku berniat melupakannya sebelum kau tanya padaku seperti tadi... Aku tidak punya waktu yang cukup untuk melupakanmu.” Apa yang kakakku katakan membuatku shock berat, tapi dengan cepat kakak menambahkan, “Tapi jangan khawatir aku akan melupakanmu sebelum kau tanya lagi padaku.”
            “Ah, benar juga... aku lupa tujuanku menarikmu tadi. Aku ingin mengundangmu ke pesta ulang tahun ayah sekaligus ulang tahun perusahaan. Kau mau?”
            “Tapi aku sudah tidak diterima lagi di keluarga sewaktu aku telah meninggalkan rumah.”
            “Jangan khawatir, aku ada di sini untuk mendukungmu. Oh iya, kau boleh bawa teman-temanmu. Sudah dulu ya”
            Setelah kakak menyerahkan beberapa buku undangan, kakak langsung pergi meninggalkanku, aku menebak ia pasti akan pergi ke kafetaria, karena aku sudah mendengar perut kakak berbunyi dari tadi. Aku menjadi bingung siapa yang harus kuundang? Akhirnya, kuputuskan untuk mengundang Kirito, Rin, Jimmy, dan Maya. Aku mengundang Maya agar dia tidak terlalu marah padaku.
            Hari dimana dilaksanakannya pesta tersebut telah tiba. Karena kami adalah keluarga yang dari dulu menjunjung estetika nenek moyang kami, aku mengeluarkan hanbok (pakaian tradisional Korea) dari lemari simpananku. Tapi, setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku berjaga-jaga membawa pakaian formal Inggris. Aku beserta teman-temanku yang kuundang dijemput oleh kakakku.
            Sesampainya di rumah tradisional Korea yang di bangun oleh keluargaku di Indonesia, aku mendapat perhatian dari banyak konsumen-konsumen serta pekerja-pekerja di perusahaan yang masih mengakuiku sebagai pewaris yang sah.
            Ketika aku sampai di ruang tamu bersama taman-temanku dan juga kakak, aku memberikan salam pada ibu dan ayah.
            “Kau! Beraninya kau datang ke sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi!”
            Itulah yang kudengar pertama kali dari ayahku. Walaupun kami sudah lama tidak bertemu, tetapi hubungan ayah dan aku tidak membaik. Aku sudah memutuskan, bahwa aku akan menjunjung tinggi kebenaran, aku juga tidak takut lagi pada ayahku.
            “Kalau begitu, bagaimana kalau aku memberitahukan yang sebenarnya kepada semua orang yang hadir di sini. Mengenai apa yang telah ayah lakukan bertahun-tahun yang lalu? Perlu kuulangi apa yang selama ini membuatku menjadi kuat dan berlatih di sana-sini?”
            “Hayata! Cukup, tidak perlu kau emosi seperti ini”
            Apa yang kuharapkan? Tentu saja, ibuku akan membela ayah, seperti dulu saat Heuk Dal datang kepada keluargaku. Saat itu, bagiku tidak ada masalah jika yang memimpin perusahaan adalah wanita, tetapi, tentu saja ibu membela ayah yang mengatakan bahwa Heuk Dal yang lebih cocok untuk menerima jabatan ini. Reaksi yang tak pernah bisa kuduga muncul dari kakakku.
            “Ibu! Hentikan, aku yang mengajaknya kemari, karena yang selama ini menjagaku adalah Hayata. Ibu pikir aku memiliki kemampuan secara alami? Tidak! Hayata-lah yang mengajariku tentang berbagai hal, pelajaran, teknik-teknik bela diri, cara mengelola perusahaan. Semuanya telah ia ajarkan padaku, tapi apa yang ibu dan ayah lakukan selama ia melakukan semua hal itu? Karena ulah ayah dan ibu, Hayata menjadi anak yang bermasalah di sekolahnya, juga ia menjadi punya dendam padaku”
            Aku tidak mengharapkan reaksi apa yang diberikan ayah dan ibuku, tetapi aku amat berterima kasih karena aku mempunyai kakak yang sungguh dapat diandalkan di saat begini. Sebagai tanda terima kasih aku menggandeng tangannya. Kakak menoleh dan tersenyum padaku.
            Sungguh tidak dapat dipercaya, reaksi yang ditimbulkan oleh orangtua kandungku berbeda dari yang kubayangkan. Mereka menerimaku kembali, sebagai pewaris sah dari ayah dan juga aku diminta ayahku untuk terus berada di sisinya saat dibutuhkan di kantor. Mataku berlinang dengan air mata, udara yang tadinya menjadi panas bagaikan kebakaran yang terjadi di dekatku, sekarang menjadi biasa-biasa saja.
            Dari hal ini, aku baru mau menyadari bahwa kakak mempunyai sesuatu yang dapat dengan mudah menarik hati orang lain. Buktinya... aku dapat dengan cepat melupakan dendamku pada kakak setelah kakak menceritakan semua detil dari peristiwa yang terjadi serta kakak dapat mengubah jalan pikiran dan hati ayah dan ibu hanya dengan kata-kata yang di ucapkan tanpa ada cela.
            Pesta... usai sudah, karena merayakan kepulanganku ke keluarga ini dan juga sebagai pewaris perusahaan yang sah, semua tamu yang diundang diperkenankan untuk menginap malam ini. Semua telah kembali normal, teman-temanku yang kuajak percaya pada kata-kataku, itu-pun akibat perkataan kakak tadi saat pesta.
            Akibat pesta yang melelahkan tadi aku duduk di koridor samping rumahku, dari sana pemandangan yang ada jauh lebih cantik daripada pemandangan matahari terbenam yang kulihat
di balkon rumahku. Aku memandang matahari yang terbenam di sana, tapi tiba-tiba kakak lagi-lagi muncul entah dari mana. Tapi kali ini tidak mengagetkanku, karena kakak sengaja tidak menyembunyikan hawa keberadaannya, sehingga aku dapat merasakannya.
            “Sedang apa kau di sini? Merasa tidak enak, karena kau menjadi pewaris perusahaan menggantikan aku?”
            “Tidak! Aku tidak akan menyerahkan posisiku lagi pada kakak.”
            Kami berdua berpandangan sejenak, lalu aku tersenyum, dan tawa kami-pun pecah memenuhi dojo  taekwondo dan kempo yang ada di belakang kami.
            “Kau tahu, Hayata... kau mempunyai senyum yang menular. Aku dapat tersenyum karena aku melihat kau tersenyum.”
            “Heuk Dal, bisa kita bicara sebentar?” Pertanyaan itu, mengagetkan kami berdua, suara jernih dan tenang, tak lain lagi suara itu milik Maya.
            Kami berpandangan sejenak. Lalu, Maya mengangguk kepadaku, secara otomatis aku menganggukkan kepala juga.
            “Baiklah, kutinggal dulu ya, Hayata”
            Setelah itu, kakak mencium keningku dan pergi meninggalkan aku yang sendiri bersama sinar matahari yang membalutku sore itu. Aku yang terlalu terfokus memikirkan apa yang akan Maya bicarakan dengan kakak, tidak menyadari bahwa Kirito berdiri di sebelahku. Suaranya yang hangat dan ringan, mengagetkanku, ia tahu aku dapat berbicara dengan Bahasa Jepang, jadi ia mengajakku bicara dengan Bahasa Jepang.
            “Selamat sore, Hime-sama”
            Aku tahu isyarat itu, ia tidak ingin apa yang kita bicarakan dimengerti oleh orang lain. Seperti kebiasaannya itu, aku selalu ia panggil tuan puteri.
            “Apa?”
            “Kau terlihat cantik dalam balutan hanbok berwarna putih dan biru muda itu, apalagi sekarang matahari menambahkan efek kilatan berwarna keemasan di bajumu itu.”
            “Tak usah terbelit-belit! Katakan apa maumu” Kataku dengan nada yang agak sedikit jengkel.
            “Maya ingin mengaku mengenai perasaannya pada kakakmu. Katanya, ia akan mengaku ketika semua masalah yang membebanimu dan kakakmu telah selesai”
            “Hah! Dari mana kau tahu semua itu?”
            “Aku tahu semua tentang dirimu, Hayata”
            Namaku seperti orang Jepang, jadi mudah bagi orang Jepang untuk mengucapkannya dengan benar. Entah mengapa, aku menyukai cara Kirito memanggil namaku. Tapi, untuk masalah Kirito mengetahui semua tentangku itu aku agak ragu. Aku menatap Kirito dengan sorot mata kebingungan, karena itu Kirito menjelaskan semuanya kepadaku. Ia mengaku kalau ia menyukaiku. Secara otomatis, aku tertegun karena alasan yang diberikan Kirito agak tidak masuk akal, ia menyukaiku ketika ia pertama bertemu denganku. Saat itu, ia sedang mencari masalah denganku, jadi mulai saat itu aku menjadi sering mengganggu dia.
            “Tunggu tunggu. Kau serius dengan ucapanmu itu?”
            “Aku selalu serius dengan ucapanku mengenai perasaanku sendiri. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?”
            “Maaf, aku... tidak bisa menerimamu saat ini.”
            Aku memandang jauh ke dalam matanya, perasaannya tulus dan aku dapat melihat keseriusan yang diutarakannya.
            “Kalau begitu, izinkan aku untuk tetap menunggumu, untuk tetap berada di sisimu.”
            Aku mengangguk pelan padanya. Aku melihat dengan jelas dengan ekor mataku, bahwa kakakku dan Maya bergandengan, dan itu artinya aku akan sendiri, sementara kakak akan lebih sering bersama dengan Maya daripada bersamaku untuk berlatih kempo.
            Malam akhirnya tiba, karena Maya tidak terbiasa tidur dengan futon (tempat tidur yang berasal dari Jepang yang langsung di letakkan di lantai tanpa ada penyangga kayu), aku dan Rin tidur di futon. Malam ini, jujur aku tidak bisa tidur sama sekali, karena pikiranku melayang ke peristiwa-peristiwa tadi sore.
            “Hayata, kau masih terbangun?”, Rin ternyata masih terjaga sama denganku.
            “hmm”
            “Kau menerima pengakuan kakakku?”
            “Belum. Aku masih belum bisa menerimanya sekarang. Aku masih harus fokus kepada ujian kelulusan dan juga urusan kantor.”
            “Kumohon, jangan terima pengakuan kakakku. Aku tidak ingin kakakku terluka karena kau berada di sampingnya.”
            “Tidakkah kau pikir bahwa kalau aku yang kau mohon sampai seperti itu, tidak akan menderita karena aku melihat orang lain menderita, apalagi orang itu menderita karena aku sendiri. Harus kuakui pada kau, adik dari Kirito, bahwa aku, mulai menyukainya.”
            “Kumohon... aku akan melakukan apapun, tapi aku tidak akan menyerahkan kakakku ke tangan gadis sepertimu.”
            Tanpa bicara apapun, aku langsung meninggalkan Rin, aku mendengar isakan pelan yang berasal dari Rin, masih dalam baju tidur tradisional Korea, aku berjalan keluar tanpa memikirkannya lagi, tetapi aku tidak bisa mengenyahkan perkataan dari Rin tadi. Aku-pun mengelilingi jalan yang terbentuk di sekitar kolam ikan yang berisi ikan nila. Pantulan yang ada di permukaan air yang tenang terdapat bayangan bulan, bulan putih. Bulan putih, yang dikelilingi oleh bulan hitam dan biru.
            Langit begitu cerah, sehingga 3 bulan tersebut nampak bersamaan bahkan di langit. Perlahan, lagi-lagi air mataku mengalir keluar, memandang bulan yang merupakan namaku, inilah saat aku lahir. Tidak ada yang menyadari dan ingat kapan aku ulang tahun. Bahkan, ayah dan ibuku tidak mengingatnya lagi. Sepanjang malam itu, aku hanya ditemani oleh cahaya rembulan dan juga seekor anjing yang kali ini tersesat dan masuk ke dalam rumahku.
            “Dari mana kau berasal? Bisakah kau merasakannya? Kesendirian di hari yang sangat spesial bagimu?”
            Seakan mengerti mengenai apa yang kukatakan, ia mendengking pelan, sangat pelan. Sehingga aku tidak tega untuk kembali ke kamarku. Untungnya, di tengah taman itu, ada sebuah ruang terbuka, semacam gazeboo, maka aku mengajaknya ke sana, lalu, aku memberinya makanan dan minuman. Semalaman, aku ditemani oleh anjing ini. Anjing ini, bulunya masih sangat bagus, tidak terkesan seperti anjing liar dan sepertinya belum lama ia berkeliaran di udara terbuka ini, anjing ini tergolong anjing yang berukuran medium.
            Saat pagi, sang mentari telah menunjukkan wajahnya, aku dibangunkan oleh jilatan anjing yang kuselamatkan semalam. Aku terbangun, dan menyadari bahwa aku tidak berada di dalam kamarku. Aku langsung pergi ke kamar mandi dan mengganti bajuku dengan baju sekolah. Aku tidak sempat sarapan sehingga aku langsung menuju ke sekolah. Karena anjing itu mengikutiku terus, maka aku memberinya nama Loyalty dan aku membawanya ke rumah pribadiku. Aku menyuruhnya diam di rumahku, setelah aku memberinya makan untuk sarapan.
            Aku langsung pergi ke sekolah. Di sekolah, aku langsung di kerumuni oleh gohei-goheiku  yang memintaku untuk kembali lagi ke dunia kempo.
            “Fuh…” Aku menghela dengan pelan. “Jangan khawatir… Aku akan kembali ke dunia kempo, kini, tidak ada alasan lagi bagiku untuk meninggalkan dunia kempo, lagi pula, tidak ada yang dapat menghentikanku dari dunia kempo.”
            Seketika kata-kataku tadi telah membuat riuh kelas ini. Kali ini aku baru sadar bahwa tidak semua orang akan menjauhiku karena perilakuku yang buruk kepada orang lain. Selama ini alasan bagiku untuk melakukan semua itu adalah selain karena aku ada masalah keluarga, aku juga butuh ketenangan dengan cara menjauhkan diriku dari publik.
            Ketika itu, aku berpas-pasan dengan Kirito, aku melihatnya dengan muka yang bersemu merah. Besok adalah hari kelulusan kami semua, sehingga aku memutuskan untuk menjawab pernyataannya di hari kelulusan kami. Dan satu masalah lagi, Rin masih tidak bisa menerimaku di keluarganya. Tapi akan kucoba sehingga ia akan dapat menerimaku di keluarganya.
            Hari kelulusan telah tiba, aku memanggil Kirito untuk pergi ke kelas yang kosong. Entah bagaimana aku mengumpulkan keberanianku, aku menerimanya sebagai pacarku. Kami berdua pergi ke kampus yang sama hanya saja mata kuliah kami berbeda.
Lama-kelamaan, Rin dapat menerimaku di dalam keluarganya. Aku, Rin, Kirito, kakakku, dan Maya, tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan setiap kali kami bertemu. Kami-pun, dengan 3 orang yang mendalami kempo dan 2 orang yang mendalami taekwondo, saling menjaga satu sama lain. Kami-pun ketika berjalan di kampus berlima, kami melihat banyak orang yang memperhatikan kami, karena selain empat orang dari kami berpacaran, kami berlima merupakan sahabat yang sulit untuk dipisahkan.
            Mereka menatap kami dengan pandangan keirian. Tapi tak apa, selama kami berlima bersahabat selalu, kami tidak akan memusingkan pandangan-pandangan tersebut, karena kami memang terlalu asyik berbicara mengenai sesuatu, sehingga kami jarang memperhatikan orang lain. Yah, inilah akhir bahagia dari kami semua.